Bandung –
Nada lagu ‘Bunda’ hingga ‘Halo-Halo Bandung’ tiba-tiba menggema, membelah riuhnya hiruk-pikuk Trans Studio Mall (TSM) Bandung Ke Sabtu (26/9/2026) malam. Menariknya, melodi itu tidak hanya dimainkan Dari penampil Ke atas panggung. Puluhan tangan pengunjung mal, Di anak kecil hingga warga lanjut usia, tampak menggenggam angklung bambu, menggoyangkannya mengikuti instruksi, lalu bernyanyi bersama Di binar mata antusias.
Pemandangan memukau yang membuat seisi mal terpaku itu menjadi salah satu puncak Di gelaran #TanggalMerahUntukIbu yang diinisiasi Dari Frisian Flag. Memutuskan tempat tepat Ke jantung TSM, seluruh rangkaian Peristiwa sukses dieksekusi dan menyita perhatian Sebelum pagi hingga malam hari.
Ini bukanlah Perayaan Seni akhir pekan biasa. Peristiwa ini sengaja didedikasikan sebagai ruang Untuk para ibu yang kesehariannya tak kenal lelah mengurus Tempattinggal tangga agar bisa merawat diri (Merawat Diri) tanpa harus mengorbankan waktu kebersamaan Di keluarga tercinta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh Sebelumnya sesi angklung interaktif menyatukan penonton Ke malam hari, energi panggung utama sudah dipanaskan Dari kelincahan anak-anak. Menjelang siang, grup vokal Avi Music sukses menularkan semangat lewat deretan lagu, salah satunya berjudul ‘Bully’.
Farabi Sentosa (26), instruktur Di Avi Music, menceritakan betapa tingginya antusiasme anak didiknya Pada tahu mereka Akansegera tampil Ke Di keramaian mal. Tantangan menyatukan jadwal Pelatihan yang berbeda-beda seketika lunas terbayar Pada melihat anak-anak menyiapkan Busana mereka Di penuh niat.
“Manfaatnya adalah melatih kepercayaan diri sih. Mereka Dari Sebab Itu lebih terbiasa punya Pengalaman Hidup Sebagai tampil on stage Berusaha Mengatasi audience yang banyak. Dari Sebab Itu enggak ada demam panggung,” jelas pemuda yang akrab disapa Avi tersebut.
Sorak-sorai penonton kembali pecah ketika anak-anak Di Step Up Perform Academy Memutuskan alih panggung. Menampilkan koreografi duo, solo, hingga trio, kelincahan mereka membuat banyak pengunjung menghentikan langkah. Eggy (30), Manajer tari mereka, mengaku harus ekstra sabar menjaga suasana hati (mood) anak-anak jelang naik panggung. Terlebih, Untuk salah satu penampil bernama Grace, ini adalah panggung solo pertamanya.
“Sebagai hari ini, event #TanggalMerahIbu ini penontonnya banyak terus Ke Di-Di banget, Dari Sebab Itu itu challenging buat anak-anak sih, Dari Sebab Itu center of crowd,” ungkap Eggy. Ia pun menitipkan pesan agar para orang tua tidak mudah memarahi anak yang Lagi kelelahan, melainkan bersinergi Di Manajer agar potensi anak cepat berkembang.
Manjakan Ibu, Bebaskan Anak Berkreasi
Pada anak-anak sibuk menaklukkan panggung, para ibu menemukan caranya sendiri Sebagai menikmati waktu sendiri Ke berbagai booth activity yang mengelilingi area Peristiwa. Ke sudut “Temani Menenangkan”, para ibu tampak menyandarkan punggung Di nyaman; raut lelah Ke wajah mereka perlahan berganti menjadi senyum lega Pada menikmati pijat kaki yang sukses mengurai rasa pegal. Antrean tak kalah panjang terlihat Ke area “Kilau Jemari” tempat para ibu Merasakan Perawatan Medis menipedi, hingga booth analisis warna personal dan penataan hijab.
Tri (35), seorang ibu muda asal Bandung, terlihat duduk santai mengawasi buah hatinya. Sambil ia menikmati waktu jedanya, sang anak tampak asyik mewarnai dan merangkai gantungan Kunci Ke “Pojok Cipta Kreasi”.
“Pas anak ikutan activity-nya dia langsung senang. Momen paling berkesan pas makan roti bareng terus dikreasiin sama susu kental manisnya Frisian Flag. Ibu-ibu tuh butuh me time juga, biar Dari Sebab Itu fresh” tutur Tri.
Daya tarik Peristiwa ini Justru sanggup membawa Mutiara (33) dan ibunya, Andriati Rustam (73), terbang jauh Di Padang, Sumatera Barat. Mereka sengaja menyewa hotel Ke Jakarta lalu bertolak Hingga Bandung hanya Sebagai merasakan Pengalaman Hidup liburan ini. Datang memboyong anak, menantu, hingga cucu Di satu Kendaraan Pribadi, keluarga lintas generasi ini tak ingin melewatkan satu pun Kegiatan.
Untuk Andriati yang menginjak usia 73 tahun, keriuhan malam Minggu Ke Peristiwa ini adalah terapi tersendiri. “Ke usia manula, itu perlu Peristiwa-Peristiwa kayak gini Sebagai menghindarkan kepikunan,” ujarnya bersemangat.
Ibu Bukanlah Mesin yang Terus Menyala
Keceriaan Ke area booth dan panggung hiburan nyatanya menyimpan sebuah pesan psikologis yang mendalam. Hal ini selaras Di sesi talkshow interaktif hari itu, “Ibu Lebih Produktif, Ciptakan Lebih Banyak Momen Bermakna”, yang Menampilkan influencer Dhatu Rembulan dan psikolog Rayna Winata.
Ditemui secara terpisah Ke sela-sela Peristiwa, Dhatu membagikan sebuah pengakuan personal yang cukup menohok Di wawancara khusus bersama jurnalis. Ketika ditanya kapan terakhir kali ia Memiliki waktu luang tanpa memikirkan urusan lain, influencer tersebut sempat tertegun. Ia jujur Mengetahui bahwa dirinya nyaris lupa kapan terakhir Memiliki jeda istirahat, sampai akhirnya sang anak jatuh sakit. Momen itu menjadi “tamparan” sekaligus pengingat baginya tentang pentingnya mencuri waktu Sebagai kewarasan diri.
“Ibu-ibu tuh bukan Android. Ibu-ibu juga manusia,” tegas Dhatu. Ia lantas berseloroh bahwa jika diberi waktu luang tanpa syarat, permintaannya amat sederhana: tidur siang, makan enak, dan berbelanja berdua saja Di sang suami.
Pengakuan jujur Dhatu seakan memvalidasi penjelasan Rayna Winata Di Kacamata psikologis. Sang psikolog mengibaratkan manusia layaknya mesin yang Memiliki batas Prestasi dan wajib diistirahatkan, bukan dipaksa Sebagai terus menyala dan melakukan yang terbaik setiap hari.
“Aku meng-encourage para suami Sebagai Memberi tanggal merah ini. Minta tolong nih para suami Sebagai bisa hands on atau mengurus pekerjaan Tempattinggal Sebagai Sambil waktu ya, atau menemani anak belajar. Supaya bisa para ibu comeback stronger,” saran Rayna.
Pesan Pemberian tersebut rupanya langsung diamini Dari Kusuma Arta (69). Sang ayah tampak sabar berdiri mendampingi dan menjaga keluarganya yang Lagi menikmati Peristiwa. Meski usianya tak lagi muda, ia menganggap bahwa Memberi kelonggaran Untuk istri dan anaknya Sebagai berkreasi dan memanjakan diri adalah sebuah keharusan. Sambil berkelakar, ia hanya berharap Hingga depannya penyelenggara juga menyediakan tempat pijat refleksi khusus Untuk bapak-bapak yang setia menunggu.
Malam Lebih larut ketika alunan orkestra Angklung Kita yang dipimpin Dari Ibnu Nurhalmi (20) resmi menutup kemeriahan. Keluarga Untuk keluarga mulai beranjak meninggalkan area mal, mampir sejenak Ke photobooth Sebagai mencetak lembaran memori hari itu. Berbekal senyum tulus, kuku yang kembali bersih, dan anak-anak yang terlelap Ke gendongan, para ibu melangkah pulang Di energi yang telah terisi penuh, siap Berusaha Mengatasi esok hari Di versi terbaik diri mereka.
(akn/ega)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia: Alunan Angklung dan Tawa Keluarga Meriahkan #TanggalMerahUntukIbu











