–
Panggung Gedung Karya Seni Jakarta (GKJ) Ke Rabu (7/10/2026) malam menampilkan pertunjukan yang berbeda Bersama biasanya. Kali ini bukan pentas Bunyi klasik, ataupun lakon Olahragawan Teater Koma, melainkan suguhan koleksi busana batik yang bertajuk ‘SMERTI’ persembahan IWAN TIRTA.
Karya Mode sebenarnya bukan sesuatu yang Terbaru Ke gedung peninggalan kolonial Belanda ini. Bersama karisma arsitekturnya yang bergaya neo-renaisans, GKJ kerap menjadi lokasi pemotretan majalah dan brand termasuk IWAN TIRTA. Akan Tetapi Terbaru kali ini Di sejarahnya, sebuah peragaan busana digelar Ke Di bangunan bersejarah yang berdiri Dari 1821 itu.
Akan Tetapi, menurut Marketing Director Iwan Tirta Rindu Melati, alasan pemilihan lokasi ini jauh Bersama ambisi Sebagai mencatatkan Pencapaian Terbaru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kenapa pilih GKJ? Sebab ada benang merah Bersama makna judul peragaannya sendiri,” ujar Rindu kepada Wolipop jelang peragaan.
Di bahasa Sanskerta, ‘smerti’ berarti jejak atau memori. “Sebab ini gedung pertunjukan tertua Ke Indonesia, Bisa Jadi banyak orang yang mulai melupakan GKJ. Karena Itu Bersama digelarnya sesuatu yang Terbaru, tercipta sebuah memori indah bahwa akhirnya pernah ada Mode show Ke sini,” jelas Rindu.
Peragaan Ke sebuah panggung pertunjukan Karya Seni sebetulnya sudah pernah dilakukan Tempattinggal Gaya dunia seperti Chanel dan Thom Browne Ke Palais Garnier, gedung opera tersohor Ke Paris, Prancis.
|
Foto: Dok. Iwan Tirta
|
Akan Tetapi, presentasi Smerti tetap Memberi Pengalaman Hidup yang berbeda Bersama keterlibatan Shadtoto Prasetio, seorang art director Bersama Shadtoto Studio.
Diungkapkan Rindu, justru Pras, demikian ia akrab disapa, yang pertama kali menyodorkan ide pementasan Ke GKJ Setelahnya Memperoleh penjelasan soal koleksi yang Akansegera ditampilkan hampir setahun lalu.
Ini kali ketiga Pras dilibatkan Bersama IWAN TIRTA Setelahnya peragaan Ke JFW Ke Oktober 2025 dan presentasi Ke hotel The St. Regis Jakarta Ke 2024.
“SMERTI dirancang Bersama mendengarkan ruangnya. Kami tidak ingin sekadar memindahkan format runway Di Di gedung pertunjukan, tetapi membangun presentasi yang merespons karakter Gedung Karya Seni Jakarta Lewat gerak, pencahayaan, Bunyi, dan ritme. Ruang ini menjadi Dibagian Bersama Pengalaman Hidup serta membentuk cara koleksi dilihat dan dirasakan,” ujar Pras Di keterangan tertulis Bersama IWAN TIRTA.
Turun Bersama panggung, model berjalan menelusuri koridor-koridor yang membelah barisan bangku penonton Supaya tamu Memperoleh kesempatan Sebagai melihat lebih Didekat koleksi yang ditampilkan, walau hanya sekejap.
Foto: Dok. Iwan Tirta |
Jenama yang didirikan Bersama maestro batik Iwan Tirta (1935-2010) itu Mengeluarkan sebanyak 50 set busana pria dan wanita yang semuanya dihiasi batik tulis.
Motif yang diangkat masih terinspirasi Bersama arsip batik Iwan Tirta yang jumlahnya mencapai ribuan. Akan Tetapi, lebih spesifik motif yang lebih Didekat Bersama semesta, seperti fauna dan flora.
“Dibuat Bersama Cara batik tulis, kali ini tanpa sogan Supaya menciptakan nuansa yang monokrom,” ujar Rindu tentang koleksi yang pengerjaannya memakan waktu setahun itu.
Ke peragaan yang turut didukung organisasi pencinta alam Yayasan WWF-Indonesia itu, muncul motif berbentuk badak dan harimau yang menghiasi sebuah crop bomber jacket.
Motif yang sama juga menghiasi minidress hijau yang dipakai Cinta Laura Di Merasakan presentasi busana tersebut.
Foto: Dok. Iwan Tirta |
Siluet modern memang tampak mendominasi, Ke sisi lain tampilan klasik seperti padanan blus dan blazer, dan kaftan yang Mewah Bersama low v-neck tetap terakomodasi.
Pemilihan warna turut menyiratkan makna tersendiri. “Merah menjadi simbol energi, hijau melambangkan Sustainability, dan abu-abu tentang jejak itu sendiri,” ungkap Rindu.
Terbaru sepekan lalu, Hari Batik Nasional dirayakan. Bersama pengamatan Rindu, ada pergeseran pandangan orang Di batik, khususnya Ke kalangan Gen Z.
“Sekarang bukan lagi soal filosofi, Bisa Jadi mereka Akansegera lebih appreciate soal Ke balik pembuatan batik, sesederhana apakah proses pengerjaan satu kain ini turut memberdayakan perempuan, lalu bagaimana pengolahan limbahnya,” ungkap Rindu.
Ia tidak memungkiri bahwa prinsip seperti itu menjadi decision point konsumen Iwan Tirta sekarang Di memilih batik. Tidak heran bila koleksi ini menggunakan 100 persen katun dan Tencel yang diklaim lebih ramah lingkungan.
Foto: Dok. Iwan Tirta |
Tiba Ke finale, tampil Grup Musik Efek Tempattinggal Kaca yang membuat Pengalaman Hidup Mode show Ke GKJ menjadi tak terlupakan.
Seperti GKJ yang tetap berdiri kokoh Ke Ditengah perubahan zaman, batik harus tetap relevan Bersama dinamika dunia Supaya jejak-jejaknya tetap bermakna.
(dtg/dtg)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Wolipop.detik.com Indonesia: Jejak Batik IWAN TIRTA Ke Mode Show Bersejarah Ke Gedung Karya Seni Jakarta












