–
Penjajahan Belanda rupanya turut memengaruhi Kearifan Lokal menenun Hingga Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Jejak era kolonial itu mewujud Di motif Di sentuhan kearifan lokal.
Hasilnya dapat terlihat Hingga salah satu kain yang dipajang Hingga pameran ‘Umaratu – Rumah Ibu Bumi’ yang digelar desainer Oscar Lawalata, atau kini dikenal sebagai Asha Smara Darra, Hingga Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Mutakhir-Mutakhir ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kain karya perajin Hingga Desa Rende Praiyawang itu dihiasi motif berbentuk orang yang diyakini sebagai Ratu Wilhelmina (1880-1962) Di Belanda.
“Hingga Kampung Rende, ada satu bangunan Rumah dulu tempat tinggal dan kantor orang Belanda,” ujar Umbu Kudu Maramba Lewa, pemuda asal Sumba Timur, tentang eksistensi Belanda Hingga Daerah tersebut.
|
Uka, ditemani ibunya, Mama Rambu Margaretha, Menunjukkan kain tenun Sumba yang dihiasi motif Ratu Wilhelmina. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
|
Uka, demikian ia akrab disapa, menuturkan Kelompok lokal kala itu sebenarnya tidak mengenal siapa sebenarnya siapa sosok Wilhelmina. Tetapi, wajahnya terasa familier Sebab sering ditemui Hingga uang koin dan tongkat raja-raja lokal.
Sudah menjadi ciri khas perajin Hingga Sumba membuat tenun Di motif yang berada Hingga Disekitar mereka, terutama flora dan fauna, khususnya kuda. Mereka pun menerjemahkan sosok Ratu Hingga Di bentuk motif.
Kain tersebut menjadi salah satu bukti pengaruh kolonial dan benda Foreign yang diserap Hingga Di sistem visual Sumba. Tampak Ke kain yang dipamerkan, figur manusia bermahkota yang dikelilingi ornamen-ornamen seperti ular.
“Kalau ini motif buah pinang. Diceritakan bahwa Ke Pada Belanda datang, Di musim buah pinang,” ungkap pria 27 tahun itu.
Kain yang merupakan koleksi pribadi keluarga Uka tersebut diprediksi dibuat Ke 1990-an atau sudah berusia 30 tahun lebih. Artinya, penenun masih menggunakan motif tersebut Sesudah Belanda tak lagi berkuasa Hingga sana.
Uka menjelaskan, Pada ini kain seperti itu sudah jarang ditemui Sebab pembuatannya yang bisa memakan waktu hingga 12 bulan.
Koleksi tenun Sumba Timur Hingga pameran Umaratu. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Sangat lama Sebab menggunakan Cara Hondu Kihil, yaitu mengaplikasikan dua bidang Di gambar yang berbeda Di satu kain. “Prosesnya Akansegera dua kali lebih rumit Di biasanya dan lama Ke Pada Hingga ikat gambar,” ungkap Uka yang tumbuh Hingga Ditengah keluarga penenun itu.
Tak heran bila nilai satu lembar kain tersebut bisa mencapai puluhan juta Uang Negara Indonesia. “Bisa Hingga atas Rp 35 juta tergantung siapa yang bisa menawar Di harga tertinggi. Kalau dijual pun, kami harus memastikan Kandidat pembeli harus betul-betul tahu sejarah dan menghargai tenun ikat,” katanya.
(dtg/dtg)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ Gaya: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)
Artikel ini disadur –> Wolipop.detik.com Indonesia: Kisah Motif Ratu Wilhelmina Hingga Kain Sumba, Jejak Kolonial Di Kearifan Lokal Tenun












