Bali – Serat daun nanas Bersama kawasan Gunung Kelud, Jawa Timur, tampil Ke Pameran Karyaseni Internasional. Melewati karya Tenun Kluwung berjudul Barik, karya Dr.Sn. Inty Nahari, S.Pd., M.Ds., Dosen Langkah Magister Terapan Industri Kreatif, Fakultas Vokasi, Universitas Negeri Surabaya (UNESA).
Serat daun nanas Kelud, karya Karyaseni yang dipamerkan Di Pameran Karyaseni Internasional. Yaitu Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026. Berlangsung Ke ARMA Museum of Art, Ubud, Bali, Ke 5–18 Juli 2026. Dikuti 50 seniman kriya, dan praktisi Bersama delapan Bangsa. Yaitu, Belanda, Amerika Serikat, India, Iran, Jerman, Kenya, Swiss, dan Indonesia, Bersama menampilkan 79 karya.
Di Barik, Inty memanfaatkan serat daun nanas Kelud, yang diolah menggunakan Metode Tenun Kluwung. Karakter alami serat, mulai Bersama perbedaan warna, tekstur, hingga ketebalan, dipertahankan. Sebagai Pada Bersama Konsep artistik karya.
Menurut Inty, keragaman karakter serat bukan merupakan kekurangan, melainkan identitas alami, yang membentuk nilai estetik. Sekaligus merekam proses Perkembangan material Ke alam.
“Barik Memperkenalkan gagasan tentang hubungan manusia, material, dan lingkungan. Serat daun nanas yang Di ini lebih banyak Dikatakan sebagai limbah Pertanian diolah, menjadi karya kriya Karyaseni, bernilai artistik dan Kebiasaan Global. Sekaligus memperlihatkan potensi pemanfaatan material lokal, secara berkelanjutan,” ujarnya.
Selain mengangkat Penjelajahan material, karya ini juga menempatkan Kebiasaan Tenun Kluwung. Sebagai dasar Perkembangan. Pengetahuan tradisional dipadukan Bersama pemanfaatan serat daun nanas, Supaya menghasilkan karya yang tidak hanya mempertahankan warisan Wastra Nusantara. Tetapi, juga menawarkan pendekatan Terbaru Di praktik Karyaseni kriya, yang ramah lingkungan.

Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026, dibuka Bersama Rektor Institut Karyaseni Indonesia Bali, Prof. Dr. Kun Adnyana, didampingi pendiri Museum Karyaseni ARMA, Anak Agung Rai, serta para kurator Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta.
Pameran tersebut menjadi ruang pertemuan seniman, akademisi, budayawan, kurator, pengelola museum, pemilik galeri. Serta Komunitas Bersama berbagai Bangsa, Sebagai Merundingkan perkembangan Karyaseni kriya, Kebiasaan, dan Topik Sustainability.
Melewati Barik, Inty berharap pemanfaatan serat daun nanas dapat memperluas pemahaman Komunitas, Di potensi material lokal. Sekaligus Menunjukkan bahwa Karyaseni kriya dapat menjadi medium Sebagai membangun kesadaran ekologis Melewati praktik kreatif.
“Karyaseni kriya bukan hanya Kekuatan menghasilkan benda. Karyaseni kriya dapat menjadi praktik kebudayaan, ruang Studi material, serta cara menawarkan pandangan Terbaru mengenai hubungan manusia Bersama alam. Barik Ke akhirnya bukan sekadar selembar kain,” jelasnya.
Barik adalah lanskap yang ditenun, merekam cahaya, hujan, bumi, tanah vulkanik, waktu, dan tangan manusia, yang Melakukanlangkah-Langkah memahami alam. Sebuah karya yang mengingatkan bahwa keindahan tidak selalu harus diciptakan Bersama sesuatu yang sempurna. Terkadang, keindahan telah tersedia Ke alam dan hanya menunggu Sebagai dibaca Bersama benar. (M9)
Artikel ini disadur –> Detiknews.id Indonesia: Serat Daun Nanas Kelud, UNESA Hadirkan Barik Ke Pameran Karyaseni Internasional











