–
Tidak pernah bermimpi menjadi desainer Gaya, Aldri Indrayana justru berhasil membuat karya yang membawanya Hingga Paris, Prancis. Ada andil kecoa, serta keberaniannya Sebagai menantang gagasan tentang makna maskulinitas.
Aldri terkejut ketika namanya disebut Dari Fabien Penone, Duta Besar Prancis Sebagai Indonesia, Timor Leste, dan Asosiasinegara-Negaraasiatenggara, sebagai peserta Pintu Incubator 2026 yang terpilih Sebagai maju Hingga tahap berikut. Salah satunya mengikuti Langkah studi singkat Di sekolah Gaya Ecole Duperre Paris.
“Congratulation Aldri,” ujar Fabien Di pidato sambutan Di reception night yang digelar Di Tempattinggal dinasnya Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Mutakhir-Mutakhir ini. Turut hadir Di Kegiatan tersebut Pejabat Tingginegara Ekonomi Kreatif Indonesia Teuku Riefky Harsya, delegasi desainer Prancis, dan perwakilan Pintu Incubator.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
|
Reaksi Aldri ketika namanya diumumkan sebagai peserta Pintu Incubator yang terpilih Hingga Paris. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)
|
Aldri Bersama labelnya yang bernama Aldrie adalah satu Di lima kreator Gaya yang mengikuti Langkah inkubasi Gaya besutan JF3 Trend Perayaan Seni, Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis Lewat IFI (Institut Francais Indonesie), tersebut.
“Jujur, nggak punya ekspektasi Sebagai Hingga Paris Pada mendaftar Pintu. Aku pikir cuma ikut bimbingan saja, lalu menampilkan karya Di panggung JF3. Aku benar-benar nggak nyangka,” kata Aldri kepada Wolipop Di sela Kegiatan.
Beberapa hari Sebelumnya, karya Adri hasil enam bulan pelatihan dan bimbingan bersama para mentor Di pakar Gaya dan Usaha Di Indonesia dan Prancis, dipresentasikan Di runway BRI JF3 Trend Perayaan Seni 2026. Bertajuk ‘Roach Me, Roach Me Not’, koleksi yang terdiri Di lima set busana ini lahir Di pandangannya Pada karakter pria tangguh yang dibentuk Dari konstruksi sosial.
Koleksi ‘Roach Me, Roach Me Not’ karya Aldri ditampilkan Di BRI JF3 Trend Perayaan Seni 2026. (Foto: Dok. JF3) |
“Sebelum kecil, laki-laki diajarkan Sebagai kuat dan tidak boleh takut. Padahal ketakutan adalah sifat yang manusiawi,” ujar pria 35 tahun itu.
Ia membayangkan, pria yang kuat sekalipun Bisa Jadi secara naluriah Akansegera mundur Pada melihat seekor kecoa (roach). Serangga tersebut menjadi ‘bintang’ Di koleksi ini Di bentuk bros yang menghiasi Pengganti rancangannya. Aldi menerjemahkannya Di desain kontemporer Bersama menggunakan material beludu berwarna merah, lalu membentuknya Bersama screen printing.
Akan Tetapi, tawaran utama Adri sejatinya adalah bagaimana ia mendefinisikan ulang Pengganti resmi. “Aku menyebutnya ‘alternative for formal wear’,” kata Adri. Pilihan luaran seperti jas atau coat hadir Di berbagai potongan asimetris, kadang Di lapel, sesekali Di keliman lengan. Ada tambahan kancing yang menyerupai pin Sebagai rambut.
Foto: Daniel Ngantung/detikcom |
Aldri juga bermain Bersama elemen ritsleting yang diaplikasikan tak sekadar Sebagai memberi kesan dekoratif, melainkan Sebagai keperluan multi-styling. Salah satu jas dapat diubah tampilannya seperti sebuah vest apabila ritsleting Di area bahu dibuka.
Sebagai bawahan, alih-alih celana panjang, ia lebih banyak Menampilkan celana pendek sebagai opsi Sebagai Kegiatan formal. Dasi tidak dipakai sebagaimana mestinya, tapi menjadi dekorasi bertumpuk yang menghiasi baju dan celana.
Kecoa bukan satu-satunya binatang yang dieksplorasi Aldri. Seorang model menenteng sebuah objek yang tampak seperti boneka gurita. “Itu sebenarnya Saku. Ada bukaan Di atas, Karena Itu bisa muat benda seperti hape dan sejenisnya,” ungkap Aldri.
(Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Idenya berawal Di anting gurita yang dirilis Aldri Sebagai koleksi Sebelumnya. Lalu mentor Pintu, Susan Budihardjo (pendiri Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo), menyarankan Adri Sebagai membuatnya Di bentuk Saku.
Aksesori tersebut terbuat Di plastik. Hingga Didepan, ia berencana menggunakan plastik daur ulang sebagai upayanya Sebagai menekan limbah Trend.
Secara keseluruhan, karya Adri terasa serius, tapi pengemasannya Di sisi lain juga dapat mengakomodasi mereka yang ingin bersolek Bersama gaya yang jenaka.
Produk keluaran label Aldrie dijual Di harga Rp 650.000 hingga termahal, Rp 5 juta.
Sekolah Metode Elektro
Perjalanan karier Aldri tidak seperti desainer kebanyakan yang dimulai Bersama Kesenangan menggambar semasa kecil. “Dulu aku nggak suka Trend sama sekali. Pas SD, semua nilai pelajaranku 9 Di rapor, kecuali Karyaseni. Hahaha,” kenang pria yang nyentrik Bersama rambut merahnya.
Masuk Hingga jenjang perguruan tinggi, ia memutuskan Sebagai Membahas studi Metode elektro Di Sydney, Australia. Sembari kuliah, Aldri berkesempatan magang Di sebuah studio Trend. Di situ, ketertarikannya Di dunia Gaya mulai tumbuh sampai akhirnya ia ditawari Sebagai belajar Di sekolah Usaha Trend.
“Aku melihat teman-temanku yang bekerja Di bidang Trend sangat bekerja keras daripada yang elektro. Rasanya seperti ada apresiasi Mutakhir Di industri Trend,” tuturnya.
Mau serius meniti karier sebagai perancang, Aldri mengikut kursus singkat Di London, Inggris, Sebelumnya akhirnya diminta orangtua Sebagai kembali Hingga Indonesia. Sesudah pulang, desainer yang berbasis Di Surabaya, Jawa Timur, ini mendirikan labelnya Di 2015.
(Foto: Daniel Ngantung/detikcom) |
Usahanya sempat berjalan lancar beberapa tahun Sebelumnya terdampak Penyebara Nmassal yang melemahkan daya belanja konsumen. Pada Usaha landai, Aldri mengisi waktu Bersama bekerja sebagai desainer Grafik dan beberapa kali mengajar Di pelatihan Sebagai pelaku Usaha Mikro Kecil yang digelar instansi pemerintah Di Lokasi-Lokasi.
Label Aldrie tak dibiarkan begitu saja. Ia terus menggodok ide-ide yang potensial Sebagai membangkitkan kembali jenamanya yang sempat ‘tertidur’.
“Sesudah menemukan formula yang pas tahun lalu, aku mencoba daftar Pintu,” kata Adri yang Sebelumnya membuat busana wanita, tapi kini memilih fokus Di koleksi pria.
Adri berpartisipasi Di tahun kelima Pintu Incubator. Di edisi kali ini, peserta Pintu Incubator yang terpilih Hingga Paris tidak langsung mengikuti trade show internasional yang mempertemukan buyers Bersama para desainer atau pemilik jenama Di seluruh dunia.
Menurut Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia sekaligus salah seorang inisiator Pintu Incubator, berkaca Di Pengalaman Hidup Sebelumnya, peserta Pintu masih perlu Menyambut bimbingan Lebih Jelas agar produk mereka lebih siap bersaing Di pasar Dunia.
Maka Itu, Pintu Incubator Melakukan inisiasi Mutakhir bernama Pintu Accelerator. “Sesudah mereka ikut Pintu Accelerator dan dirasa sudah matang, Mutakhir bisa jualan Di trade show,” ujarnya.
Di tahun-tahun Sebelumnya, peserta Pintu mengikuti Premiere Classe, salah satu pameran Trend berkonsep B-to-B terbesar Di Paris.
Meski belum dapat menjual busana rancangannya, ia tetap berencana menyambangi perhelatan tersebut Sebagai sekadar Meninjau. “Aku mau lihat apa yang dicari buyer Di sana, dan kira-kira apa yang aku bisa kasih sesuatu yang Mutakhir,” kata Aldri.
(dtg/dtg)
Artikel ini disadur –> Wolipop.detik.com Indonesia: Berkat ‘Kecoa’, Desainer Muda Asal Surabaya Ini Bisa Belajar Trend Di Paris















