Siapa yang pernah merasakan atau melihat keberadaan hantu? Kegiatan paranormal seringkali menjadi perbincangan orang-orang. Ada sebagian yang percaya, ada juga sebagian orang yang tidak percaya sama sekali.
Lalu bagaimana sebenarnya Di perspektif ilmiah? Profesor psikologi Wake Forest University Ke Amerika Serikat bernama Melissa Maffeo menjelaskan manusia seringkali berpikir subjektif Di menafsirkan berbagai Pengalaman Hidup.
Ia berpendapat otak manusia Mungkin Saja saja menciptakan Pengalaman Hidup supernatural Sebab salah menafsirkan dunia Ke sekitarnya. Salah satu faktor pemicunya adalah gangguan neurologis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sebuah studi Tindak Kejahatan ditemukan, Memberi aliran listrik kecil tertentu Ke Pada kepala dapat menimbulkan sejumlah efek yang aneh. Pemberian aliran listrik ini biasanya dilakukan sebagai Pada prosedur klinis.
“Seorang pasien Menyaksikan ‘sosok bayangan ilusi’ yang meniru gerakannya dan Malahan seolah-olah mengganggu gerakan tersebut. Orang lain juga pernah melaporkan Menyaksikan sensasi keluar Di tubuh atau out-of-body experience,” kata Melissa dikutip Di Live Science, Sabtu (8/8/2026).
Bukti eksperimental Menunjukkan area otak yang disebut temporoparietal junction kemungkinan Memperoleh peran penting Di menciptakan sensasi merasa berada dan hidup Ke Di tubuh sendiri. Gangguan Ke area otak ini disebut dapat memicu sensasi seolah-olah seseorang terlepas Di tubuhnya.
Para ilmuwan saraf belum sepenuhnya memahami bagaimana otak membangun sensasi keberadaan Ke Di tubuh. Kemungkinan besar, otak menggabungkan berbagai informasi Di tubuh, seperti Kesejaganan dan posisi tubuh, Bersama proses internal lainnya, termasuk rasa diri dan kendali Di tindakan.
Ketika integrasi tersebut terganggu, seseorang dapat Menyaksikan sensasi yang sangat aneh.
Kegagalan Di menafsirkan sensasi tubuh juga dapat terjadi ketika tidur. Ini terjadi Pada otak Memangkas respons Di dunia luar.
Pada fase tidur REM (rapid eye movement), yaitu fase ketika sebagian besar mimpi yang paling jelas terjadi, otak mengirimkan sinyal yang mencegah otot-otot rangka bergerak.
Mekanisme ini menyebabkan tubuh Menyaksikan kelumpuhan Sambil Pada tidur REM. Ini merupakan mekanisme perlindungan neurologis yang apabila tidak ada sistem ini, maka tubuh Berencana benar-benar melakukan gerakan sesuai Bersama mimpi yang Lagi dialami.
“Tetapi, sebagian orang terbangun ketika masih berada Di Kebugaran REM dan mendapati bahwa mereka tidak dapat bergerak. Ke Pada yang sama, mereka dapat Menyaksikan halusinasi yang sangat nyata, sisa Di mimpi yang Mutakhir saja dialami,” ujar Mellisa.
Pengalaman Hidup ini biasanya berlangsung singkat. Tetapi, Pada Menyaksikan sleep paralysis atau kelumpuhan tidur, sinyal saraf yang mengendalikan pergerakan otot rangka masih terhambat Agar terjadi ketidaksesuaian Di informasi Di tubuh dan apa yang diterima otak.
“Kebanyakan orang merespons hilangnya informasi sensorik tersebut Bersama rasa takut. Hal ini membuat mereka Lebihterus Mungkin Saja menganggap apa yang mereka lihat atau dengar Di Kebugaran tersebut sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi,” tandasnya.
Halaman 2 Di 3
(avk/suc)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia: Sering Lihat Hantu? Bisa Karena Itu Bukan Mistis, tapi Ada Gangguan Ke Otak











