Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan Di dunia. Pola makan yang dikonsumsi sehari-hari diketahui dapat memengaruhi risiko seseorang terkena Penyakit tersebut.
Pola makan ala Barat yang umumnya tinggi lemak dan daging, tetapi rendah serat, telah lama dikaitkan Di peningkatan risiko kanker kolorektal. Akan Tetapi, mekanisme yang membuat pola makan tersebut dapat Mendorong terbentuknya tumor masih belum sepenuhnya dipahami.
Dikutip Di Science Alert, studi terbaru yang diterbitkan Untuk jurnal Gut Memberi petunjuk Terbaru mengenai mekanisme tersebut. Studi ini menemukan, bakteri tertentu Di Untuk usus, yang dapat berkembang akibat pola makan tinggi lemak, Berpeluang menghasilkan senyawa yang Mendorong Kemajuan tumor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Regu peneliti internasional yang dipimpin sejumlah institusi Di Jerman menggabungkan sejumlah metode Studi. Mereka melakukan eksperimen Di babi yang dimodifikasi secara genetik, tikus, serta jaringan usus besar manusia yang dikembangkan Di laboratorium. Peneliti juga Meneliti data mikrobioma Di ribuan orang, baik yang Merasakan kanker kolorektal maupun yang tidak.
Hasil Studi mengarah Di deoxycholic acid (DCA), yakni senyawa yang terbentuk ketika bakteri usus tertentu mengubah asam empedu secara kimiawi.
Asam empedu Memiliki peran penting Untuk proses pencernaan. Senyawa ini diproduksi Di kolesterol Di hati dan dilepaskan Hingga usus halus Sebagai membantu tubuh memecah serta menyerap lemak.
Sebagian besar asam empedu Setelahnya Itu diserap kembali dan dikembalikan Hingga hati. Akan Tetapi, sebagian kecil dapat mencapai usus besar. Di sana, bakteri tertentu yang Memiliki kemampuan melakukan proses yang disebut 7-alpha-dehydroxylation dapat mengubah asam empedu primer menjadi asam empedu sekunder, termasuk DCA.
Kadar DCA yang lebih tinggi serta bakteri penghasil senyawa tersebut Sebelumnya juga telah ditemukan Di orang Di kanker kolorektal.
Studi yang diterbitkan Untuk jurnal Immunity Di 2024 juga menemukan bahwa DCA dapat menurunkan Karya sel kekebalan tubuh yang berperan menyerang tumor dan Mendorong Kemajuan tumor kolorektal Di tikus.
Meski demikian, Studi Sebelumnya belum dapat memastikan apakah produksi DCA Dari bakteri menjadi penghubung langsung Di pola makan ala Barat dan perkembangan kanker kolorektal.
Mikrobioma usus sendiri merupakan komunitas besar yang terdiri Di bakteri dan mikroorganisme lain yang hidup Di Untuk saluran pencernaan. Meski relatif mudah diambil sampelnya, mikrobioma merupakan ekosistem kompleks yang tidak mudah dipetakan.
Sebagai mengetahui hubungan tersebut secara lebih langsung, peneliti Pertama Merasakan babi yang dimodifikasi secara genetik Agar Memiliki kecenderungan Merasakan polip Di usus besar.
Ketika babi tersebut diberikan pola makan ala Barat, perkembangan tumor Di usus Menimbulkan Kekhawatiran. Situasi tersebut juga disertai peningkatan kadar DCA Untuk feses serta peningkatan proliferasi sel epitel yang melapisi usus besar.
Peneliti Setelahnya Itu Memberi cholestyramine kepada sebagian babi. Terapi tersebut bekerja Di mengikat asam empedu Di saluran pencernaan Agar dapat dikeluarkan Di tubuh.
Setelahnya asam empedu dikeluarkan, proliferasi sel berlebihan Di usus besar berkurang. Temuan ini Lebih memperkuat dugaan adanya hubungan Di asam empedu dan perkembangan tumor.
Berikutnya, peneliti melakukan eksperimen Di tikus bebas kuman atau germ-free mice, yang memungkinkan komunitas mikroba Di Untuk ususnya dikendalikan secara lebih presisi.
Ketika bakteri penghasil DCA, termasuk Clostridium scindens dan Extibacter muris, ditambahkan Hingga komunitas mikroba usus tertentu, bakteri tersebut menghasilkan DCA dan Meningkatkan jumlah tumor usus besar Di dua model tikus kanker kolorektal yang berbeda.
Untuk eksperimen lainnya, peneliti memodifikasi secara genetik bakteri Faecalicatena contorta Agar tidak lagi mampu melakukan reaksi yang diperlukan Sebagai menghasilkan DCA.
Tikus yang diberi bakteri hasil modifikasi tersebut Merasakan lebih sedikit tumor usus besar dibandingkan tikus yang membawa bakteri F. contorta normal yang masih mampu menghasilkan DCA.
Bakteri hasil modifikasi tersebut juga menyebabkan proliferasi sel epitel yang lebih rendah Di organoid usus besar manusia, yakni model miniatur jaringan usus besar yang dikembangkan Di laboratorium.
Sebagai melihat apakah mekanisme bakteri yang sama juga berkaitan Di kanker kolorektal Di manusia, peneliti Setelahnya Itu Meneliti DNA mikroba Di sampel feses yang dikumpulkan Untuk sejumlah kelompok Studi. Data tersebut mencakup 1.034 orang Di kanker kolorektal dan 1.108 orang tanpa kanker kolorektal.
Gen yang terlibat Untuk produksi DCA, terutama gen yang berkaitan Di C. scindens dan bakteri yang Memiliki hubungan Didekat dengannya, ditemukan lebih sering Di orang Di kanker kolorektal dibandingkan mereka yang tidak Merasakan Penyakit tersebut.
Secara keseluruhan, temuan ini mendukung dugaan pola makan tinggi lemak ala Barat dapat mengubah metabolisme asam empedu Di Mendorong Kemajuan bakteri usus tertentu. Bakteri tersebut Setelahnya Itu mengubah asam empedu primer menjadi DCA. Senyawa DCA Berikutnya dapat merangsang proliferasi sel secara abnormal Agar menciptakan Situasi yang mendukung Kemajuan tumor.
“Mengingat hasil Studi kami Menunjukkan seberapa besar pola makan tinggi lemak ala Barat dan perubahan mikrobioma usus yang menyertainya dapat memengaruhi Kesejajaran usus manusia,” kata ahli mikrobiologi Sören Ocvirk Di German Institute of Human Nutrition Potsdam-Rehbruecke Untuk keterangan tertulis.
Akan Tetapi, Studi ini Memiliki sejumlah keterbatasan. Eksperimen yang Memberi bukti mengenai hubungan sebab-akibat dilakukan Di hewan yang memang sudah Memiliki kecenderungan Merasakan Penyakit tersebut.
Sambil Itu, Studi Di manusia bersifat observasional. Artinya, Studi tersebut hanya dapat Menunjukkan adanya hubungan, tetapi belum dapat membuktikan bahwa produksi DCA Dari bakteri secara langsung menyebabkan kanker Di peserta Studi.
Studi ini juga belum membuktikan bahwa cholestyramine dapat mencegah atau mengobati kanker kolorektal Di manusia. Diperlukan uji klinis Sebelumnya Terapi pengikat asam empedu, pemeriksaan mikrobioma, atau terapi yang menargetkan jalur bakteri tertentu dapat digunakan Sebagai Pra-Penanganan kanker.
Meski begitu, Studi ini Memberi kemungkinan penjelasan biologis atas hubungan Di pola makan dan kanker kolorektal yang telah diamati para ilmuwan Pada bertahun-tahun. Temuan tersebut juga Berpeluang membantu mengidentifikasi orang-orang yang mikrobioma ususnya membuat mereka lebih rentan Di dampak pola makan tidak sehat.
Sebagai Pada ini, hasil Studi tersebut masih sejalan Di anjuran pola makan yang telah ada, bukan menjadi dasar terapi Terbaru. Pola makan yang kaya serat, buah, sayuran, dan biji-bijian utuh serta lebih rendah daging olahan dan daging merah diketahui berkaitan Di risiko kanker kolorektal yang lebih rendah.
Halaman 2 Di 2
(suc/suc)
Artikel ini disadur –> Detik.com Indonesia: Terungkap Lewat Studi, Pola Makan Seperti Ini Bisa Picu Kanker Usus Besar











