Tahukah kamu bahwa kebiasaan merawat kuku Di salon ternyata dapat menyimpan bahaya tersembunyi Untuk Kesejaganan?
Untuk sebagian besar wanita, merawat kuku Di salon Kandidatteratas sudah menjadi rutinitas Sebagai menunjang penampilan. Akan Tetapi, kebiasaan melapisi kuku secara terus-menerus Bersama Pewarna kuku konvensional, gel, hingga dip powder Berpotensi Sebagai memicu masalah Kesejaganan Untuk jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Proses pengaplikasian dan penghapusan bahan eksternal Di permukaan kuku menyebabkan hilangnya lapisan luar kuku dan masuknya bahan kimia. Bahan kimia ini menyebabkan kuku mengering Agar melemahkan strukturnya,” ucap Ahli Perawatan Kulit Di Atlanta, dr. Corrie Alford.
Bahaya dan Risiko Kesejaganan Akibat Sering Manicure
Sebelumnya kamu memutuskan Sebagai kembali melakukan Penanganan Di salon Untuk mengikuti Gaya warna Pewarna kuku terbaru, penting Sebagai memahami risiko Kesejaganan yang Bisa Jadi mengintai. Sering kali, efek Samping Penanganan ini muncul tanpa disadari.
Penyakit Menyebar Bakteri dan Jamur
Potensi Penyakit Menyebar Di jaringan kuku dapat muncul Pada terjadi luka gores Di kulit atau akibat penggunaan alat salon yang kurang steril. Menurut Ahli Perawatan Kulit Di New York, dr. Viktoryia Kazlouskaya, PhD, Penyakit Menyebar bakteri umumnya ditandai Bersama pembengkakan, rasa nyeri Pada ditekan, kemerahan, rasa hangat, hingga penumpukan nanah Di Di kuku.
“Untuk kebanyakan Perkara Pidana Hukum, Penyakit Menyebar bakteri bersifat ringan dan sembuh sendiri, tetapi kadang-kadang Penyakit Menyebar tersebut dapat berkembang menjadi Penyakit Menyebar yang lebih serius atau abses yang membutuhkan antibiotik atau drainase,” jelasnya.
Risiko Penyakit Menyebar ini sebenarnya lebih dipengaruhi Dari kerusakan Di kutikula dibandingkan seberapa sering kamu mengecat kuku. Ahli Perawatan Kulit dan ahli patologi, dr. Christina Sun, menjelaskan bahwa kutikula berfungsi sebagai batas pelindung alami Di permukaan kuku dan jaringan kulit Di sekitarnya. Ketika kutikula dipotong habis atau didorong terlalu keras, celah terbuka dapat terbentuk Agar jamur dan bakteri lebih mudah masuk.
“Manipulasi kutikula yang agresif setiap minggu jauh lebih mengkhawatirkan daripada manicure lembut setiap beberapa minggu,” ucap Ahli Perawatan Kulit Di New York, dr. Nicole Lee, MPH.
Sun menambahkan bahwa apabila kuku sudah terlanjur terinfeksi, hentikan semua bentuk manicure hingga kondisinya benar-benar pulih.
Di Samping Itu, kebersihan salon juga menjadi faktor penting yang menentukan Perlindungan. dr. Greeta Yadav, Ahli Perawatan Kulit Di Toronto, memperingatkan Sebagai waspada jika salon menggunakan alat yang diambil Untuk laci terbuka tanpa kantong steril. Hindari pula tempat yang tidak merendam instrumen Untuk cairan disinfektan atau menggunakan kikir yang sama berulang kali Sebagai banyak pelanggan.
Kuku Terangkat dan Mengelupas
Kerusakan fisik dan paparan zat kimia keras Pada proses Penanganan dapat menyebabkan Kepuasan yang dikenal sebagai onikolisis (onycholysis). dr. Geeta mengatakan bahwa masalah ini terjadi ketika lempeng kuku terlepas Untuk bantalan kuku Di bawahnya.
Tekanan mekanis Untuk pemasangan ekstensi, pengikiran berlebihan, hingga paparan cairan aseton Pada merendam gel kuku dapat mengikis kelembapan alami, membuat kuku menjadi sangat rapuh dan mudah patah.
Jika kuku kamu mulai tampak menipis, retak, atau terangkat, segera berikan waktu istirahat Sebagai kuku. dr. Geeta menyarankan jeda Terapi Di dua hingga tiga bulan agar jaringan kuku Terbaru yang sehat dapat tumbuh Bersama baik.
Dermatitis Kontak Alergi
Penggunaan produk Keindahan kuku secara terus-menerus dapat memicu reaksi alergi Di kulit Di Di jari. Menurut dr. Viktoryia, bahan kimia Untuk kelompok akrilat seperti 2-Hydroxyethyl Methacrylate (2-HEMA) dan Methyl Methacrylate (MMA) sering ditemukan Di Perekat kuku, gel, maupun akrilik dan menjadi pemicu utama alergi ini.
“Banyak orang berasumsi bahwa Lantaran mereka telah menggunakan suatu produk Pada bertahun-tahun, produk tersebut tidak Bisa Jadi tiba-tiba menyebabkan reaksi. Padahal, dermatitis kontak alergi umumnya berkembang Setelahnya paparan berulang Untuk jangka waktu tertentu,” jelasnya.
dr. Nicole mengatakan bahwa Tanda-Tanda alergi ini meliputi sensasi terbakar, gatal menyengat, kulit mengelupas, hingga ruam bersisik Di Di kuku. Malahan, sentuhan tangan Hingga area wajah atau leher dapat memindahkan alergen dan menyebabkan iritasi Di sekitarnya.
Begitu tubuh Menunjukkan reaksi alergi, dr. Corrie menyarankan Sebagai menghentikan penggunaan produk berbahan kimia tersebut guna mencegah Tanda-Tanda menjadi lebih parah Di Lalu hari.
Artikel ini disadur –> Wolipop.detik.com Indonesia: Sering Manicure Di Salon Kuku? Waspadai 5 Bahaya yang Mengintai Kesejaganan









